RESTORASI LAHAN GAMBUT INDONESIA OLEH BADAN RESTORASI GAMBUT INDONESIA

RESTORASI LAHAN GAMBUT INDONESIA



Indonesia memiliki sekitar  14,9 juta hektar lahan gambut yang terbagi di berbagai wilayah di indonesia meliputi provinsi Sumatra Selatan, Jambi, dan Pulau Kalimantan. Gambut memiliki beberapa kegunaan mulai dari penambat karbon, indikator perubahan iklim, membantu rekonstruksi gambaran ekologi di masalampau, sampai sumber energi. Ironisnya, lahan gambut justru dikonversi untuk kepentingan lain dengan cara yang tak seharusnya, yaitu dibakar. Ini terjadi setiap tahunnya, hal ini mengakibatkan polusi asap di mana-mana, penyakit pernapasan mulai merajalela, serta aktivitas kerja terganggu. Bukan hanya di indonesia negara tetangga pun ikut merasakan dampak dari kebakaran lahan gambut di indonesia.


Pada tahun 2015, luas lahan yang terbakar adalah 32 kali luas Jakarta dan 52% di antaranya adalah lahan gambut. Bukan menambat karbon, emisi yang dihasilkan setara emisi 2500 pabrik batu bara dan mengantarkan Indonesia sebagai emiter gas rumah kaca terbesar ketiga di dunia. Belum lagi melihat kerugian yang ditimbulkan saat itu mencapai Rp220 triliun, belum termasuk penyakit pernapasan di masyarakat, kegiatan terganggu, dan punahnya keanekaragaman hayati. Tahun 2016, perjalanan cukup menyenangkan dengan luas lahan terbakar yang menyusut hanya tinggal 10,91% (dari 891.275 hektar ke 97.787 hektar, menurut keterangan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Mengingat kebutuhan dana yang sangat tinggi (Rp30 juta per hektar lahan yang direstorasi), BRG membutuhkan keterlibatan pihak swasta dan masyarakat untuk ikut bergerak di tujuh provinsi : Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Papua. Restorasi ini tidak dilakukan secara asal-asalan, tetapi didukung dengan rancangan yang berkelanjutan dan riset pendukung sehingga hasilnya optimal dan tidak menimbulkan masalah baru bagi masyarakat sekitar.
Setelah mempelajari dan memahami pentingnyauntuk melakukan restorasi gambut serta langkah untuk melakukannya, kita perlu memantau komitmen dari pihak-pihak yang terlibat, melihat aktivitas dan wilayah yang direstorasi dalam peta, dan membagikan cerita terkait kepada masyarakat. Pantau gambut tidak harus dengan mendatangi setiap provinsi yang menjadi target, tetapi bisa dilakukan secara kolaboratif tanpa mengeluarkan biaya besar melalui media online yaitu #PantauGambut. Ini kembali lagi ke masalah kepedulian, apakah kita peduli atau tidak terhadap masa depan lahan gambut di negara kita.
Foto: pantaugambut.id
Foto: pantaugambut.id
Melihat apa yang sudah berjalan, tahun lalu BRG sudah melakukan restorasi sekitar 200.000 hektar lahan. Infrastruktur yang telah dibangun meliputi 15.615 sekat kanal primer maupun skunder, 2.581 embung, dan 516 sumur bor. Semua upaya ini mendapat apresiasi dari dunia di mana Riau dan Jambi menjadi salah satu contoh restorasi gambut terbaik dan beberapa negara anggota PBB datang ke sana untuk meninjau. Mereka kagum dengan kemampuan bangsa kita menerjemahkan upaya ini dengan baik. Lebih membanggakannya lagi, jika target 2 juta hektar berhasil, emisi gas rumah kaca akan berkurang sebesar 7,8 gigaton CO2, setara emisi gas rumah kaca selama setahun di Amerika Serikat atau emisi 6 miliar mobil pribadi per tahun.



Latest

1 comments:


EmoticonEmoticon